Aku nggak pernah nyangka…
lagu yang dulu cuma aku putar sambil lalu, sekarang malah jadi seperti cerita tentang hidupku sendiri.
Lagu itu adalah Los Dol dari Denny Caknan.
Dulu waktu pertama dengar, aku cuma mikir:
“Enak ya lagunya… santai, lucu, ringan.”
Tapi sekarang?
Setiap katanya seperti nyentuh sesuatu yang dulu nggak pernah aku sadari.
Dulu Ketawa, Sekarang Malah Diam
Bagian ini dulu aku anggap bercanda:
“Los dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane, yen entek tak tukokne…”
Kayak cowok yang santai, nggak posesif, bahkan terkesan “yaudah terserah kamu.”
Tapi setelah ngalamin sendiri…
itu bukan santai.
Itu luka yang dipaksa terlihat santai.
Itu perasaan yang sebenarnya tahu… tapi memilih diam.
Yang Paling Ngena Itu… Bukan Rindu
Ada satu bagian yang sekarang rasanya paling nusuk:
“Tenan, Dek, elingo, yen mantan nakokno kabarmu
Tandane iku ora rindu
Nanging kangen kringet bareng awakmu…”
Dulu aku ketawa dengarnya.
Sekarang… aku ngerti maksudnya.
Nggak semua yang datang lagi itu karena rindu.
Kadang cuma karena kebiasaan.
Kadang cuma karena ingat kenyamanan… bukan perasaan.
Dan itu lebih sakit.
Karena kita kira masih berarti…
padahal cuma jadi “kenangan yang enak diingat.”
Pura-Pura Nggak Tahu, Padahal Semua Terasa
Bagian ini… jujur aja, paling relate:
“Kok tutup-tutupi, nomere mbok ganti
Firasat ati angel diapusi…”
Hati itu aneh.
Sering kita bohongi dengan logika… tapi tetap saja tahu.
Mau disembunyikan seperti apa pun,
mau pura-pura nggak peduli,
mau bilang “aku baik-baik saja”…
tetap ada suara kecil yang bilang:
“Ini nggak beres.”
Dan yang paling menyakitkan adalah…
kita tahu, tapi tetap bertahan.
“Rapopo, Aku Ra Gelo” — Bohong Paling Halus
“Tutuk-tutukno chattingan karo wong liyo
Rapopo, aku ra gelo…”
Kalimat ini… sederhana, tapi berat.
“Gapapa, aku nggak marah.”
Padahal dalam hati?
hancur pelan-pelan.
Kadang kita nggak marah bukan karena kuat…
tapi karena capek.
Capek jelasin.
Capek berharap.
Capek jadi satu-satunya yang masih peduli.
Los Dol Itu Bukan Ikhlas… Tapi Terbiasa Sakit
Sekarang aku baru paham…
“los dol” itu bukan berarti benar-benar santai.
Itu fase di mana kita sudah terlalu sering kecewa,
sampai akhirnya bilang:
“Ya sudah… terserah.”
Bukan karena nggak cinta lagi.
Tapi karena sadar…
dipertahankan pun nggak akan jadi seperti dulu.
2026: Tahun Aku Akhirnya Mengerti
Lucu ya…
lagu ini sudah lama ada.
Tapi aku baru benar-benar “kena” sekarang.
Mungkin memang begitu hidup.
Kita baru mengerti sesuatu… setelah mengalaminya sendiri.
Dan sekarang, setiap kali bagian ini diputar:
“Los dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an…”
Aku nggak lagi ikut nyanyi dengan senyum.
Kadang malah diam…
karena terlalu relate.
Penutup: Aku, Kamu, dan “Los Dol”
Kalau kamu juga pernah ada di posisi ini…
kamu pasti tahu rasanya.
Berusaha terlihat biasa saja,
padahal dalam hati banyak yang belum selesai.
Dan mungkin…
kita semua pernah ada di fase itu.
Fase di mana satu-satunya yang bisa kita lakukan cuma:
“Los dol.”
Pelan-pelan…
meski hati belum benar-benar sembuh.
17
95.531
36
669
16
16



Posting Komentar